RC

RIFKY CHANNEL

Media Dakwah & Informasi Islami
INFO TERKINI
Selamat Datang di Rifky Channel Media Dakwah Islami Digital • Update Artikel dan Video Kajian Keislaman Setiap Hari.
JADWAL SHOLAT
Mendeteksi...
Imsak --:--
Subuh --:--
Dzuhur --:--
Ashar --:--
Maghrib --:--
Isya --:--
Cek Arah Kiblat

Latar Belakang Berdirinya Nahdlatul Ulama


 Dalam proses pendirian NU, terjadi diskusi mendalam mengenai nama organisasi. Muncul usulan nama Nuhudlul Ulama yang bermakna kebangkitan ulama. Namun, KH Mas Alwi Abdul Aziz lebih menyarankan nama Nahdlatul Ulama. Menurut beliau, istilah "Nahdlatul" mengandung makna kebangkitan yang berkelanjutan dan terhubung dengan garis perjuangan serta sanad keilmuan para ulama terdahulu.

Choirul Anam menjelaskan bahwa berdirinya Nahdlatul Ulama merupakan kelanjutan historis dari perjuangan Wali Songo dan para pendakwah Islam di Nusantara. Selama berabad-abad, upaya menjaga Islam dilakukan secara estafet dan turun-temurun. Namun, seiring dengan perubahan zaman dan tantangan yang semakin kompleks, para kiai Aswaja merasa perlu mengubah strategi perjuangan. Jika sebelumnya mereka bergerak secara individual melalui pesantren, maka kehadiran NU menjadi babak baru di mana perjuangan tersebut diwadahi dalam bentuk organisasi yang terstruktur.
“Ini hanyalah persoalan cara, tapi intinya adalah mempertahankan Islam itu sendiri. Buktinya, pesantren dipertahankan, organisasi dijalankan,” tulis Choirul Anam di buku itu.

Hadirnya penjajah dari Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris, hingga ekspansi Jepang, membawa tantangan besar bagi Nusantara. Para penjajah ini tidak sekadar mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi juga melakukan penetrasi agama dan budaya secara sistematis. Hal inilah yang mendorong para kiai untuk membentuk organisasi; sebagai benteng pertahanan guna membendung pengaruh luar tersebut sekaligus sebagai instrumen perjuangan nasional untuk meraih kemerdekaan.

Upaya menjaga agama ini difokuskan pada pelestarian ajaran, pemikiran, dan amalan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang berpegang pada empat mazhab. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika di Timur Tengah, di mana saat itu muncul gerakan pembaruan yang mengusung slogan "kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis". Gerakan baru tersebut cenderung menolak praktik bertaklid kepada mazhab empat, sehingga para kiai merasa perlu menegaskan kembali posisi mereka.Upaya menjaga agama ini difokuskan pada pelestarian ajaran, pemikiran, dan amalan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang berpegang pada empat mazhab. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika di Timur Tengah, di mana saat itu muncul gerakan pembaruan yang mengusung slogan "kembali kepada Al-Qur'an dan Hadis". Gerakan baru tersebut cenderung menolak praktik bertaklid kepada mazhab empat, sehingga para kiai merasa perlu menegaskan kembali posisi mereka.

Dominasi paham Wahabi di Arab Saudi semakin menguat setelah Ibnu Saud, Raja Najed, berhasil menguasai wilayah Hijaz pada periode 1924–1925. Dengan dukungan kekuasaan, aliran ini menjadi sangat dominan dan membatasi ruang gerak kelompok lain; praktik pengajaran mazhab dilarang, bahkan terjadi persekusi terhadap sejumlah ulama. Pengaruh ini kemudian merambah ke Nusantara melalui kelompok-kelompok yang gencar mengampanyekan gerakan anti-bidah.Mereka menuding praktik taklid sebagai alasan kemunduran Islam dan mulai melarang tradisi seperti tahlilan serta praktik keagamaan lainnya yang sebenarnya telah lama menjadi bagian dari tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah.

Kebijakan represif penguasa Arab Saudi menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Nusantara. Sebagai respons, mereka berinisiatif mengirimkan delegasi ke Mekkah untuk bernegosiasi dengan penguasa saat itu agar kebijakan tersebut dihentikan. Rencana besar ini difinalisasi melalui pertemuan di kediaman KH Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya. Pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), pertemuan tersebut resmi membentuk Komite Hijaz, yang menjadi cikal bakal berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama.

Selain aspek agama, semangat nasionalisme untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan menjadi motif utama kedua berdirinya NU. Hal ini terlihat jelas dalam rekam jejak KH Wahab Chasbullah. Sejak masa mudanya, beliau telah aktif dalam gerakan kebangsaan melalui Sarekat Islam (SI) dan Indonesische Club. Beliau juga menginisiasi berbagai wadah seperti Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, hingga Syubanul Wathan sebagai sarana pendidikan politik dan agama bagi pemuda.Choirul Anam mencatat bahwa sehari sebelum peristiwa bersejarah di Kertopaten, terjadi dialog penting antara KH Wahab Chasbullah dan KH Abdul Halim Leuwimunding yang semakin mematangkan langkah ini.

---------------
Kontributor : Rifky Alfarizy

Tautan Berhasil Disalin!