RC

RIFKY CHANNEL

Media Dakwah & Informasi Islami
INFO TERKINI
Selamat Datang di Rifky Channel Media Dakwah Islami Digital • Update Artikel dan Video Kajian Keislaman Setiap Hari.
Layanan Super App Keislaman
AI SANTRI LAMD Tanya jawab hukum Islam, fiqih & konsultasi syariah
Doa-Doa Pilihan Kumpulan judul doa makbul harian & amaliyah
Teks Sholawat Daftar lirik sholawat Nabi and madaikh
Al-Qur'an Digital Mushaf Al-Qur'an 30 Juz online & terjemah

Menggali Emas di Bulan Keberkahan: Keutamaan Bulan Dzulhijjah

        Purworejo - Bulan Dzulhijjah menempati kedudukan yang sangat mulia dalam kalender Islam, bersanding dengan momentum agung seperti Ramadhan. Keistimewaan bulan ini berpusat pada dua pilar besar, yaitu ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha (Kurban). Selain itu, fase sepuluh hari pertama di bulan ini menyimpan keberkahan khusus yang menjadi waktu terbaik bagi umat Muslim untuk mengoptimalkan amal ibadah. Beberapa amalan yang sangat dianjurkan meliputi memperbanyak zikir, sedekah, tilawah Al-Qur'an, serta ibadah sunnah lainnya. Secara spesifik, Rasulullah ﷺ juga sangat menganjurkan umatnya untuk menunaikan puasa sunnah sejak tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah, sebagaimana disabdakan beliau:

   مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هٰذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ   

"Tidak ada hari dimana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Tidak juga dari jihad fi sabilillah?’ Beliau menjawab: ‘Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya."

        Teks tersebut menggarisbawahi urgensi mengoptimalkan berbagai amal shalih sepanjang sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Pada momentum ini, umat Muslim sangat dianjurkan memperbanyak rutinitas keagamaan, seperti tilawah Al-Qur’an, zikir, tasbih, mempererat silaturahim, serta berpuasa. Mengutip penjelasan Ibnu Hajar (w. 1449 M) dalam kitab Fath al-Bârî, keutamaan eksklusif dari sepuluh hari pertama ini lahir karena bertemunya semua induk ibadah secara bersamaan, yakni shalat, puasa, sedekah, dan haji—sebuah perpaduan yang tidak dijumpai pada bulan-bulan lainnya (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz 3, h. 390).

        Sementara itu, terkait syariat puasa Dzulhijjah, Syekh Zakaria al-Anshari (w. 1520 M) dalam Asnâ al-Mathâlib memaparkan rincian hukumnya secara spesifik. Beliau menegaskan bahwa berpuasa dari tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah berstatus sunnah. Bagi masyarakat umum maupun jemaah haji, puasa pada tanggal satu sampai tujuh Dzulhijjah sama-sama dianjurkan. Perbedaan hukum terjadi pada tanggal delapan (hari Tarwiyyah) dan sembilan (hari Arafah), di mana puasa sunnah ini hanya dikhususkan bagi umat Muslim yang tidak sedang berhaji. Bagi jemaah yang sedang menunaikan ibadah haji, berpuasa pada dua hari tersebut justru dinilai khilâful aulâ (menyalahi keutamaan), bahkan Imam An-Nawawi mengategorikannya sebagai makruh. Al-Anshari menjelaskan bahwa jemaah haji lebih diprioritaskan untuk menjaga stamina agar dapat memperbanyak doa pada hari-hari tersebut, sekaligus sebagai bentuk ittibâ’ (mengikuti) sunnah Rasulullah ﷺ (Zakaria al-Anshari, Asnâ al-Mathâlib Syarhu Raudhah al-Thâlib).

        Puasa sunnah Dzulhijjah dilaksanakan sejak tanggal satu hingga sembilan Dzulhijjah, di mana hari kedelapan disebut puasa Tarwiyah dan hari kesembilan dinamakan puasa Arafah. Sebagaimana ketentuan puasa pada umumnya, ibadah ini dimulai dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam, dengan kewajiban menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkannya.

      Bagi umat Muslim yang masih memiliki tanggungan utang puasa Ramadhan, mereka diperkenankan untuk menunaikan puasa qadha tersebut bertepatan dengan hari-hari puasa sunnah Dzulhijjah. Bahkan, Sayyid Bakri Syatha (w. 1892 M.) dengan bersandar pada fatwa Al-Barizi memaparkan bahwa seseorang yang berpuasa dengan niat tunggal untuk mengqadha Ramadhan pada momen tersebut, secara otomatis akan mendapatkan dua pahala sekaligus. Sebagai contoh, jika seseorang melaksanakan puasa qadha Ramadhan pada hari Arafah tanpa menyertakan niat puasa sunnah, ia tetap akan memperoleh pahala kesunnahan puasa Arafah (Sayid Bakri, Hâsyiyah I’ânah at-Thâlibîn, juz 2, h. 224).

---------------------------------

Kontributor : Rifky Channel


Tautan Berhasil Disalin!