Purworejo - Segala puji dan syukur sedalam-dalamnya kita haturkan kepada Allah Swt., Tuhan Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Sholawat beserta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada suri teladan kita, Nabi Muhammad saw. Pembaca yang dirahmati oleh Allah Swt., dalam mengarungi kehidupan ini, sering kali kita melupakan betapa besarnya pengaruh dari setiap kata yang kita ucapkan.
Kemampuan berbicara—atau lisan—merupakan salah satu nikmat paling berharga yang Allah Swt. titipkan kepada manusia. Melalui untaian kata, kita mampu membangun jembatan komunikasi yang harmonis, mentransfer ilmu pengetahuan yang bermanfaat, menyebarkan kedamaian, serta mempererat tali persaudaraan antar-sesama. Lisan yang terawat dengan baik adalah pemancar kebaikan.
Namun, layaknya pisau bermata dua, lisan yang tidak terkendali justru dapat bertransformasi menjadi hulu ledak yang menghancurkan. Ucapan yang ceroboh, fitnah, dan gunjingan adalah sumber dari berbagai konflik, sakit hati, bahkan kemaksiatan yang besar. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang berkomitmen pada keimanan, sudah sepatutnya kita menumbuhkan kesadaran tinggi untuk selalu menyaring kata sebelum berucap, demi menjaga diri dari bahaya lidah sendiri.
Di era digital, kendali diri tidak lagi terbatas pada apa yang diucapkan oleh lisan, melainkan juga apa yang diketik oleh jari di media sosial. Kini, ketikan jari bisa jauh lebih tajam dan menyakitkan daripada ucapan langsung. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter telah menyatu dengan rutinitas harian kita. Sayangnya, platform yang awalnya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan penyambung silaturahmi, kini sering disalahgunakan sebagai wadah ekspresi bebas yang kebablasan. Akibatnya, ruang digital ini kerap beralih fungsi menjadi arena caci maki, penyebaran fitnah, dan perdebatan kusir yang melanggar nilai-nilai Islam.
Jika dahulu pertikaian hanya terjadi melalui adu mulut, hari ini permusuhan bisa tersulut dengan sangat mudah hanya melalui ketikan jari di kolom komentar.
Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu menjaga lisan dan tangan. Muslim yang baik adalah muslim yang tidak menyakiti kaum muslim lainnya, entah dengan lisan ataupun tangannya. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ
Artinya: Dari Abi Musa ra berkata, “Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling afdhal itu?” Beliau menjawab, “Seorang muslim yang menyelamatkan orang muslim lainnya dari bencana akibat perbuatan lidah dan tangannya.” (H.R. Bukhari)
Para pembaca dan pemirsa yang dirahmati Allah SWT. Islam telah menggariskan beberapa prinsip mendasar serta etika yang harus kita pegang teguh saat berselancar di media sosial.
Prinsip Pertama: Menyadari Pertanggungjawaban Akhirat atas Setiap Ucapan dan Tindakan.
Sebagai seorang muslim, esensi keimanan kita menuntut kesadaran penuh bahwa tidak ada satu pun aktivitas yang luput dari perhitungan di akhirat kelak. Batasan ini tidak hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga mengikat seluruh jejak digital kita di dunia maya.
Ketika kesadaran ini telah menghujam di dalam hati, seorang muslim tentu akan jauh lebih bijak dan selektif sebelum mengunggah, berkomentar, atau membagikan sesuatu. Media sosial akan digunakan dengan penuh tanggung jawab, karena ia tahu setiap ketikan jemari dan kata yang telontar memiliki konsekuensi spiritual.
Al-Qur'an sendiri telah banyak memperingatkan kita melalui berbagai ayat tentang bagaimana anggota tubuh manusia—termasuk jemari yang kita gunakan untuk mengetik di layar ponsel—akan menjadi saksi hidup atas segala perbuatan kita selama di dunia. Salah satu penjelasannya dapat kita renungkan dalam firman Allah SWT berikut:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS Al-Israa: 36 )
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Artinya: Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qaf : 18)
Artinya: Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qaf : 18)
Dalam Tafsir al-Munir, Syekh Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa Allah SWT telah mengutus dua malaikat, yaitu Raqib dan Atid, untuk merekam setiap dinamika kehidupan manusia. Tidak ada satu pun ucapan yang terlontar atau tindakan yang dilakukan—termasuk setiap ketikan, share, dan likes di ruang digital—melainkan semuanya tercatat secara akurat tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
Prinsip Kedua: Berkata Baik atau Memilih Diam.
Sebagai seorang muslim yang bijak, kita dituntut untuk mampu mengendalikan diri dari tutur kata yang sia-sia, terlebih yang berpotensi melukai perasaan orang lain.
Dalam ekosistem digital, prinsip ini menjadi kompas utama dalam berinteraksi. Setiap kolom komentar, cuitan, maupun unggahan yang kita buat harus lolos dari saringan "berkata baik atau diam". Jika kehadiran kita di sebuah ruang diskusi tidak mampu memberikan nilai tambah yang positif atau mencerahkan, maka menahan diri untuk tidak merespons adalah pilihan yang paling menyelamatkan. Pilihan untuk diam ini menjadi perisai terbaik agar kita tidak terjebak dalam penyesalan di kemudian hari akibat jemari yang tak terkendali.
Terkait hal ini, Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat tegas dalam sabdanya:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَٰهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip Ketiga: Melakukan Tabayun (Verifikasi) Sebelum Membagikan Informasi
Secara esensial, tabayun bermakna memeriksa dengan teliti, mengklarifikasi, dan memvalidasi kebenaran suatu informasi sebelum kita menyebarluaskannya atau mengambil keputusan berdasarkan berita tersebut.
Al-Qur'an secara tegas memperingatkan umat manusia agar tidak bersikap tergesa-gesa dalam mengonsumsi ataupun membagikan informasi. Di era media sosial saat ini, kita dituntut untuk tidak mudah tergiur oleh sesuatu yang sekadar mengejar "viral" atau tren sesaat. Ikut serta menyebarkan berita tanpa adanya kejelasan sumber dan kebenaran hanya akan menimbulkan fitnah, terlebih jika informasi tersebut berpotensi merusak reputasi atau menjatuhkan kehormatan orang lain.
Urgensi untuk menjaga prinsip kehati-hatian ini telah digariskan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an, yang berbunyi:
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
Artinya: “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)
Menjaga Hati Melalui Jaring Husnuzan
Artinya: “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)
Menjaga Hati Melalui Jaring Husnuzan
Di dunia maya, fitnah kerap kali menjelma menjadi hoaks, komentar yang memicu provokasi, atau potongan video manipulatif yang sengaja dipotong demi menggiring opini negatif. Menghadapi realitas ini, seorang muslim mengemban kewajiban moral untuk melakukan tabayun—yakni menyaring dan memastikan kebenaran informasi sebelum jemari kita ikut andil dalam menyebarkannya.
Prinsip Keempat: Menanamkan Husnuzan (Berbaik Sangka)
Melengkapi sikap kehati-hatian tersebut, Islam mengajarkan salah satu akhlak paling mulia dalam berinteraksi dengan sesama, yaitu husnuzan atau selalu berbaik sangka.
Media sosial adalah cermin dari isi hati pembacanya. Sebuah unggahan atau status yang sama bisa ditangkap sebagai hal yang positif dan mencerahkan oleh mereka yang hatinya dipenuhi husnuzan. Sebaliknya, konten yang sama bisa berubah menjadi bahan gunjingan dan sumber kebencian jika diterima oleh pikiran yang dikuasai suuzan (berburuk sangka).
Sifat gemar mencari-cari kesalahan dan berprasangka buruk ini sangat merusak persaudaraan. Oleh sebab itu, Allah SWT secara tegas melarang umat-Nya untuk memelihara prasangka negatif, sebagaimana yang diabadikan dalam firman-Nya melalui Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 12 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. (QS. Al-Hujurat : 49 )
Dari seluruh pemaparan di atas, kita dapat memetik sebuah benang merah bahwa di era digital ini, fungsi "lisan" telah bertransformasi ke dalam bentuk jari-jemari kita. Setiap ketikan, komentar, unggahan, dan aktivitas membagikan informasi memiliki bobot spiritual yang sama persis dengan ucapan yang keluar dari mulut kita.
Oleh karena itu, kecakapan dan kearifan dalam bermedia sosial bukanlah sekadar etika modern, melainkan wujud nyata dari upaya menjaga lisan yang menjadi tolok ukur kesempurnaan iman seorang muslim.
Semoga untaian falsafah dan tuntunan ini menjadi ilmu yang bermanfaat serta mendatangkan keberkahan bagi kehidupan kita. Kita berserah diri dan memohon agar Allah SWT senantiasa meneguhkan nikmat Iman dan Islam di dalam dada kita, serta menganugerahkan keselamatan, baik di dunia yang fana ini maupun di akhirat yang abadi kelak. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
______________
Kontributor : Rifky Alfarizy