RC

RIFKY CHANNEL

Media Dakwah & Informasi Islami
INFO TERKINI
Selamat Datang di Rifky Channel Media Dakwah Islami Digital • Update Artikel dan Video Kajian Keislaman Setiap Hari.rifkychannel.my.id
artikel,

Menyelami Makna Syair Antara Tata Bahasa dan Hakikat Perjuangan


 Dalam khazanah kesusastraan Arab, kitab Ibnu 'Aqil syarah Alfiyyah Ibnu Malik bukan sekadar panduan sintaksis (Nahwu) dan morfologi (Shorof). Di balik bait-bait nadzom dan syair-syair di dalmnya, tersimpan mutiara hikmah yang bisa menjadi kompas kehidupan. Salah satu pengalan syair yang menarik untuk dikaji adalah:

غَيْرُ مَأْسُوفٍ عَلَى زَمَنِ # يَنْقَضِى بِالْهَمِّ وَالْحَزَنِ 

"Tidaklah disesali  (sia-sia) waktu yang dihabiskan dengan keprihatinan dan kesungguhan."

A. Tinjauan Gramatika: 

Secara struktur bahasa (I'rab), penggalan syair ini merupakan contoh indah dari konsep Mubtada’ yang memiliki Fa’il sebagai pengganti Khabar (Mubtada' lahu fa'il sadda masaddal khabar).

Dalam kaidah Nahwu, biasanya sebuah Mubtada' (subjek) membutuhkan Khabar (predikat) untuk menyempurnakan makna. Namun, dalam kasus ini, kata غير (Ghairu) berfungsi sebagai Mubtada', dan kata setelahnya tidak berposisi sebagai Khabar, melainkan sebagai Fa'il (pelaku) atau Naibul Fa'il yang menduduki posisi Khabar. Secara teknis, ini menunjukkan bahwa "proses" (subjek) dan "pelaku/ yang bertindak" (fail) menyatu dalam satu kesatuan makna yang utuh dan kuat.

B. Pelajaran Hidup

Jika kita membedah maknanya lebih dalam, syair ini mengajarkan kita tentang manajemen waktu dan mentalitas seorang pejuang. Seringkali manusia merasa rugi ketika waktunya habis untuk bekerja keras, merasa cemas (hamm), atau bersedih dalam perjuangan (hazan). Namun, dalam syair tersebut menegaskan bahwa waktu tersebut "Ghairu Ma’sufin" (tidak perlu disesali).

Dari hal tersebut ada beberapa poin hikmah yang bisa kita ambil:

 1. Ikhtiar dan "Ngeker Howo" (melawan hawa nafsu) : Hidup adalah tentang usaha. Menghabiskan waktu untuk bekerja keras dan prihatin. Dalam istilah Jawa disebut ngeker howo senenge nepsu (menahan hawa nafsu), mungkin terasa berat, namun itulah investasi yang sesungguhnya.

 2. Hukum Timbal Balik: Setiap keringat yang menetes dan setiap kegelisahan dalam melakukan kebaikan tidak akan pernah menguap begitu saja. Allah SWT menjanjikan balasan atas setiap ikhtiar, baik itu diberikan secara langsung maupun melalui perantara tangan-tangan manusia lainnya.

 3. Orientasi Ridho Allah: Kesedihan dan keprihatinan dalam jalan kebaikan adalah tanda bahwa seseorang sedang berproses. Tujuan akhirnya bukanlah kenyamanan duniawi semata, melainkan tercapainya Ridho Allah SWT.

Jadi syair dalam kitab Ibnu Aqil di atas mengingatkan kita bahwa indikator keberhasilan waktu bukan dilihat dari seberapa banyak kita bersenang-senang, melainkan seberapa bermanfaat waktu tersebut digunakan untuk berikhtiar dan mengalami keprihatinan. Jangan pernah menyesali masa sulit yang kita lalui demi tujuan yang mulia, karena di situlah nilai kemanusiaan kita sedang ditempa.

-----------------
Kontributor : Misbachul Anam

VIDEO TERBARU